google3394c6c8fadba720.html KUNCUP BIO: Anatomi Dan Fisiologi Hewan
SELAMAT DATANG DI TAUFIK ARDIYANTO'S BLOG

DESKRIPSI PENDIDIKAN SAAT SMA (slide)

SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono adalah salah satu sekolah yang terletak di Lampung Timur

DESKRIPSI PERGURUAN TINGGI YANG DITEMPUH (DIJALANI)

Universitas Lampung (Unila) adalah salah satu perguruan tinggi di propinsi Lampung

DESKRIPSI PRIBADI

Taufik Ardiyanto adalah seorang pemuda yang dilahirkan tahun 1992 di kampung kecil Sribhawono

DESKRIPSI MENGENAI ISI BLOG INI

Blog ini memuat tentang informasi seputar pendidikan terutama yang menyangkut Biologi

DESKRIPSI MENGENAI HOBI DAN MINAT

Suka membaca, menulis dan bereksperimen adalah hobiku dan akan selalu auk kembangkan demi meraih cita-cita gemilang.

Tampilkan postingan dengan label Anatomi Dan Fisiologi Hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anatomi Dan Fisiologi Hewan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Alat Pencernaan Manusia


Sistem pencernaan makanan pada manusia terdiri dari beberapa organ, berturut-turut dimulai dari

1. Rongga Mulut,

2. Esofagus

3. Lambung

4. Usus Halus

5. Usus Besar

6. Rektum
7. Anus.
 

Rongga Mulut

Mulut merupakan saluran pertama yang dilalui makanan. Pada rongga mulut, dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan. 
 Pada Mulut terdapat :

a.Gigi


Memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil. Perhatikan gambar disamping.

b.Lidah

Memiliki peran mengatur letak makanan di dalam mulut serta mengecap rasa makanan.


c.Kelenjar Ludah

Ada 3 kelenjar ludah pada rongga mulut. Ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sekitar 1 sampai 2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah : air, mucus, enzim amilase, zat antibakteri, dll. Fungsi ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi disakarida.


Esofagus (Kerongkongan)

Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esophagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang esophagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung



Lambung

Lambung adalah kelanjutan dari esophagus, berbentuk seperti kantung. Lambung dapat menampung makanan 1 liter hingga mencapai 2 liter. Dinding lambung disusun oleh otot-otot polos yang berfungsi menggerus makanan secara mekanik melalui kontraksi otot-otot tersebut. Ada 3 jenis otot polos yang menyusun lambung, yaitu otot memanjang, otot melingkar, dan otot menyerong.

Selain pencernaan mekanik, pada lambung terjadi pencernaan kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan lambung. Senyawa kimiawi yang dihasilkan lambung adalah :

Asam HCl ,Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus. Lipase , Memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan sangat sedikit. Renin , Mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki oleh bayi. Mukus , Melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat asam HCl.


 

Hasil penggerusan makanan di lambung secara mekanik dan kimiawi akan menjadikan makanan menjadi bubur yang disebut bubur kim. Fungsi HCI Lambung :

1. Merangsang keluamya sekretin

2. Mengaktifkan Pepsinogen menjadi Pepsin untuk memecah protein.

3. Desinfektan

4. Merangsang keluarnya hormon Kolesistokinin yang berfungsi merangsang empdu mengeluarkan getahnya.


Usus Halus

Usus halus merupakan kelanjutan dari lambung. Usus halus memiliki panjang sekitar 6-8 meter. Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum (± 25 cm), jejunum (± 2,5 m), serta ileum (± 3,6 m). Pada usus halus hanya terjadi pencernaan secara kimiawi saja, dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan oleh usus halus serta senyawa kimia dari kelenjar pankreas yang dilepaskan ke usus halus. 

Senyawa yang dihasilkan oleh usus halus adalah :

Disakaridase Menguraikan disakarida menjadi monosakarida. Erepsinogen Erepsin yang belum aktif yang akan diubah menjadi erepsin. Erepsin mengubah pepton menjadi asam amino. Hormon Sekretin Merangsang kelenjar pancreas mengeluarkan senyawa kimia yang dihasilkan ke usus halus. Hormon CCK (Kolesistokinin) Merangsang hati untuk mengeluarkan cairan empedu ke dalam usus halus. Selain itu, senyawa kimia yang dihasilkan kelenjar pankreas adalah :

Bikarbonat Menetralkan suasana asam dari makanan yang berasal dari lambung. Enterokinase Mengaktifkan erepsinogen menjadi erepsin serta mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin. Tripsin mengubah pepton menjadi asam amino. Amilase Mengubah amilum menjadi disakarida. Lipase Mencerna lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Tripsinogen Tripsin yang belum aktif. Kimotripsin Mengubah peptone menjadi asam amino. Nuklease Menguraikan nukleotida menjadi nukleosida dan gugus pospat. Hormon Insulin Menurunkan kadar gula dalam darah sampai menjadi kadar normal. Hormon Glukagon Menaikkan kadar gula darah sampai menjadi kadar normal
 

Pencernaan makanan secara kimiawi pada usus halus terjadi pada suasana basa. Prosesnya sebagai berikut :

a. Makanan yang berasal dari lambung dan bersuasana asam akan dinetralkan oleh bikarbonat dari pancreas.

b. Makanan yang kini berada di usus halus kemudian dicerna sesuai kandungan zatnya. Makanan dari kelompok karbohidrat akan dicerna oleh amylase pancreas menjadi disakarida. Disakarida kemudian diuraikan oleh disakaridase menjadi monosakarida, yaitu glukosa. Glukaosa hasil pencernaan kemudian diserap usus halus, dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.

c. Makanan dari kelompok protein setelah dilambung dicerna menjadi pepton, maka pepton akan diuraikan oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin menjadi asam amino. Asam amino kemudian diserap usus dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.

d. Makanan dari kelompok lemak, pertama-tama akan dilarutkan (diemulsifikasi) oleh cairan empedu yang dihasilkan hati menjadi butiran-butiran lemak (droplet lemak). Droplet lemak kemudian diuraikan oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak dan gliserol kemudian diserap usus dan diedarkan menuju jantung oleh pembuluh limfe.


Usus Besar (Kolon)

Merupakan usus yang memiliki diameter lebih besar dari usus halus. Memiliki panjang 1,5 meter, dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus besar dibagi menjadi 3 daerah, yaitu : Kolon asenden, Kolon Transversum, dan Kolon desenden. 

Fungsi kolon adalah :

a. Menyerap air selama proses pencernaan.

b. Tempat dihasilkannya vitamin K, dan vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis dengan bakteri usus, misalnya E.coli.

c. Membentuk massa feses

d. Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh. Pengeluaran feses dari tubuh ddefekasi.


Rektum dan Anus


Merupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh. Sebelum dibuang lewat anus, feses ditampung terlebih dahulu pada bagian rectum. Apabila feses sudah siap dibuang maka otot spinkter rectum mengatur pembukaan dan penutupan anus. Otot spinkter yang menyusun rektum ada 2, yaitu otot polos dan otot lurik.




Gangguan Sistem Pencernaan

• Apendikitis-Radang usus buntu.

• Diare- Feses yang sangat cair akibat peristaltik yang terlalu cepat.

• Kontipasi -Kesukaran dalam proses Defekasi (buang air besar)

• Maldigesti-Terlalu banyak makan atau makan suatu zat yang merangsang lambung.

• Parotitis-Infeksi pada kelenjar parotis disebut juga Gondong

• Tukak Lambung/Maag-"Radang" pada dinding lambung, umumnya diakibatkan infeksi Helicobacter pylori

• Xerostomia-Produksi air liur yang sangat sedikit

Gangguan pada sistem pencernaan makanan dapat disebabkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan. Di antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung, peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis).


Diare

Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi.


Konstipasi (Sembelit)

Sembelit terjadi jika kim masuk ke usus dengan sangat lambat. Akibatnya, air terlalu banyak diserap usus, maka feses menjadi keras dan kering. Sembelit ini disebabkan karena kurang mengkonsumsi makanan yang berupa tumbuhan berserat dan banyak mengkonsumsi daging.


Tukak Lambung (Ulkus)

Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis tertentu. Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut: Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium).


Gangguan lain adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung.

Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis.

Anatomi Telinga Manusia


Indra pendengar dan keseimbangan terdapat di dalam telinga. Telinga manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

a. Telinga Luar


Bagian ini tersusun oleh daun telinga yang dibentuk dari bahan tulang rawan dan lubang saluran suara yang panjangnya 2,5 cm. Telinga luar ini berbentuk corong, sehingga dari struktur yang dimiliki dapat mengumpulkan gelombang suara dari luar. Sedangkan saluran berfungsi untuk menjaga udara di dalam tetap hangat dan lembab. Di sepanjang saluran ini terdapat banyak bulu kurang lebih 4000 buah kelenjar khusus yang menghasilkan tahi kuping. Bulu-bulu tersebut berfungsi untuk penghalang masuknya serangga dan debu. Jika ada serangga atau debu yang berhasil masuk, maka tahi kuping akan menjeratnya. Tahi kuping juga berfungsi mencegah terjadinya infeksi telinga terutama jika kita berenang di air yang kurang bersih.

b. Telinga Tengah
Telinga tengah merupakan suatu rongga kecil dalam tulang pelipis (tulang temporalis) yang berisi tiga tulang pendengaran (osikula), yaitu maleus (tulang martil), inkus (tulang landasan), dan stapes (tulang sanggurdi). Ketiganya saling berhubungan melalui persendian . Tangkai maleus melekat pada permukaan dalam membran tympani, sedangkan bagian kepalanya berhubungan dengan inkus. Selanjutnya, inkus bersendian dengan stapes. Stapes berhubungan dengan membran pemisah antara telinga tengah dan telinga dalam, yang disebut fenestra ovalis (tingkap jorong/ fenestra vestibule). Di bawah fenesta ovalis terdapat tingkap bundar atau fenesta kokhlea, yang tertutup oleh membran yang disebut membran tympani sekunder.

Telinga tengah dibatasi oleh epitel selapis gepeng yang terletak pada lamina propria yang tipis yang melekat erat pada periosteum yang berdekatan. Dalam telinga tengah terdapat dua otot kecil yang melekat pada maleus dan stapes yang mempunyai fungsi konduksi suara . maleus, inkus, dan stapes diliputi oleh epitel selapis gepeng.

Telinga tengah berhubungan dengan rongga faring melalui saluran eustachius (tuba auditiva), yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan antara kedua sisi membrane tympani. Tuba auditiva akan membuka ketika mulut menganga atau ketika menelan makanan. Ketika terjadi suara yang sangat keras, membuka mulut merupakan usaha yang baik untuk mencegah pecahnya membran tympani. Karena ketika mulut terbuka, tuba auditiva membuka dan udara akan masuk melalui tuba auditiva ke telinga tengah, sehingga menghasilkan tekanan yang sama antara permukaan dalam dan permukaan luar membran tympani.

c. Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari labirin osea dan labirin membranasea. Labirin osea adalah serangkaian rongga pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum berisi cairan perilimfe. Sedangkan labirin membranasea memiliki bentuk yang sama dengan labirin osea, tetapi terletak di bagian yang lebih dalam dan dilapisi sel epitel serta berisi cairan endolimfe.

Labirin osea terdiri dari tiga bagian yaitu kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran), vestibula, dan koklea. Kanalis semisirkularis dan vestibula mengandung reseptor keseimbangan tubuh , sedangkan koklea mengandung reseptor pendengaran. Vestibula terdiri dari dua bagian yaitu utrikulus dan sakulus. Di depan vestibula terdapat koklea (rumah siput). Koklea terdiri dari tiga bagian yaitu bagian atas disebut skala vestibule, bagian bawah disebut skala timpani dan bagian yang menghubungkan keduanya pada ujung atas koklea.

Bagian dasar dari skala vestibule berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui suatu jendela berselaput yang disebut dengan tingkap oval. Sedangkan skala timpani berhubungan dengan telinga tengah melalui tingkap bulat. Diantara skala vestibule dan skala timpani terdapat skala media yang berisi cairan endolimfe.

Kamis, 01 September 2011

LEUKOSIT (SEL DARAH PUTIH)


Leukosit merupakan nama lain untuk sel darah putih. Leukosit berfungsi mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Itulah sebabnya leukosit disebut juga fagosit. Leukosit mempunyai bentuk yang berbeda dengan eritrosit. Bentuknya bervairasi dan mempunyai inti sel bulat ataupun cekung. Gerakannya seperti Amoeba dan dapat menembus dinding kapiler. Berdasarkan ada/tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menjadi:

1. Leukosit bergranula (granulosit)

a. Neutrofil

b. Eosinofil

c. Basofil

2. Leukosit tidak bergranula (agranulosit)

a. Limfosit

b. Monosit



1. Neutrofil

Plasmanya bersifat netral, inti selnya berjumlah banyak dengan bentuk bermacam-macam. Neutrofil fagositosis terhadap eritrosit (sel darah merah), kuman, dan jaringan mati.

2. Eosinofil

Plasmanya bersifat asam. Itulah sebabnya eosinofil akan merah tua bila ditetesi eosin. Eosinofil juga bersifat fagosit dan jumlahnya akan meningkat jika tubuh terkena infeksi.

3. Basofil

Plasmanya bersifat basa. Itulah sebabnya plasma akan berwarna biru jika ditetesi larutan basa. Sel darah putih ini akan berjumlah banyak jika terkena infeksi. Basofil juga bersifat fagosit. Selain itu, basofil mengandung zat kimia anti penggumpalan, yaitu heparin.

4. Limfosit

Limfosit tidak dapat bergerak dan berinti satu. Ukurannya ada yang besar dan ada yang kecil. Limfosit berfungsi untuk membentuk antibodi.

5. Monosit

Monosit dapat bergerak seperti Amoeba dan mempunyai inti yang bulat/ bulat panjang. Monosit diproduksi pada jaringan limfa dan bersifat fagosit.
 

Adakalanya benda asing ataupun mikroba yang tidak dikehendaki memasuki tubuh kita. Jika hal tersebut terjadi tubuh akan menganggap benda yang masuk itu sebagai benda asing atau antigen. Apa yang terjadi pada antigen tersebut? Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan dianggap sebagai benda asing. Akibatnya tubuh melalui sel-sel darah putih (leukosit) memproduksi antibodi untuk menghancurkan antigen tersebut. Glikoprotein yang terdapat di dalam hati kita dapat merupakan antigen bagi orang lain jika glikoprotein tersebut disuntikkan kepada orang lain. Hal ini membuktikan bahwa suatu bahan dapat dianggap sebagai antigen untuk orang lain tetapi belum tentu sebagai antigen untuk kita. Hal tersebut juga berlaku untuk keadaan sebaliknya.
 

Leukosit yang berperan penting terhadap kekebalan tubuh ada 2 macam, yaitu fagosit dan limfosit. Sel fagosit akan menghancurkan benda asing yang dengan cara menelannya (fagositosis).

Fagosit terdiri atas 2 macam sel, yaitu:

1. Neutrofil, terdapat di dalam darah.

2. Makrofag, dapat meninggalkan peredaran darah untuk masuk ke dalam jaringan atau rongga tubuh.

Limfosit terdiri atas:

1. T limfosit (T Sel), yang bergerak ke kelenjar timus (kelenjar limfa di dasar leher).

2. B limfosit (B sel). Keduanya dihasilkan oleh sumsum tulang dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah, menghasilkan antibodi yang disesuaikan dengan antigen yang masuk ke dalam tubuh. Seringkali virus memasuki tubuh tidak melalui pembuluh darah tetapi melalui kulit dan selaput lendir agar terhindar dari leukosit. Namun sel-sel tubuh tersebut tidak berdiam diri. Sel-sel tubuh tersebut akan menghasilkan interferon suatu protein yang dapat memproduksi zat penghalang terbentuknya virus baru (replikasi). Adanya kemampuan ini dapat mencegah terjadinya serangan virus.

Rabu, 10 Agustus 2011

Transport Zat pada Ginjal

I.    PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
  
    Sel sebagai unit terkecil suatu makhluk hidup secara struktural dan fungsional. Itu berarti sel merupakan penyusun tubuh makhluk hidup. Sel-sel yang tersusun akan membentuk suatu jaringan. Sekumpulan jaringan kemudian akan tersusun menjadi suatu organ. Organ-organ tersebutlah yang kemudian akan tersusun menjadi sistem organ. Sehingga pada tubuh manusia terciptalah satu kesatuan yang kompleks yang bermula dari sel.

    Di dalam sel terjadi proses biokimia dan fungsi hidup seperti nutrisi dan digesti, adsorpsi, transport, biosintesis, sekresi, respirasi, ekskresi, respon, dan reproduksi. Semuanya itu akan berjalan dengan melibatkan sel dan bagian-bagiannya. Organ-organ yang terbentuk, secara bersama-sama  akan menyusun dan menjalankan sistem dengan kompak.

Misalnya ginjal. Ginjal merupakan organ ekskresi, yaitu pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh, khususnya pada vertebrata. Pada manusia, ginjal merupakan dua organ yang berbentuk seperti kacang merah dan terletak di rongga perut. Ginjal kanan lebih rendah dari pada ginjal kiri karena di atas ginjal kanan terdapat hati. Ukurannya sebesar kepalan tangan manusia yang tertutup.

Ginjal sebagai organ ekskresi memiliki beberapa fungsi, diantaranya menyaring darah sehingga menghasilkan urin. Proses ini akan berkaitan dengan transport zat yang melalui seluler. Dalam makalah ini, akan dijelaskan sedikit lebih rinci tentang proses tersebut.
B.    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah mengetahui proses transport pada ginjal yang berhubungan dengan fungsi dan cara kerja ginjal.


II.    PEMBAHASAN

2.1    Anatomi Fungsional
Renal Capsule (Fibrous Capsule)
Tiap ginjal dibungkus dalam suatu membran transparan yang berserat yang disebut renal capsule. Membran ini melindungi ginjal dari trauma dan infeksi. Renal capsule tersusun dari serat yang kuat, terutama colagen dan elastin (protein berserat), yang membantu menyokong massa ginjal dan melindungi jaringan vital dari luka. Renal capsule menerima suplai darahnya terutama dari arteri interlobar, suatu pembuluh darah yang merupakan percabangan dari renal arteri utama. Pembuluh darah ini menjalar melalui cortex ginjal dan berujung pada renal capsule. Membrane ini biasanya 2-3 milimeter tebalnya.
Renal Capsule melindungi dinding luar dan masuk melalui bagian cekung ginjal yang dikenal dengan sinus. Sinus berisi pembuluh utama yang mengangkut urin dan pembuluh arteri dan venna yang menyuplai jaringan dengan nutrisi dan oksigen. Renal capsule terhubung kepada struktur ini dalam sinus dan melapisi dinding sinus.
Pada orang yang normal, renal capsule berwarna merah muda, tembus cahaya, halus, dan mengkilat. Biasanya membran ini mudah dilepas dari jaringan ginjal. Ginjal yang terkena penyakit sering membuat ikatan serat dari jaringan utamanya kepada renal capsule, yang membuat capsule melekat lebih kuat. Sulitnya membuka capsule ini merupakan pertanda bahwa ginjal telah terkena penyakit.

Renal Cortex
Renal cortex merupakan lapisan terluar ginjal. Lapisan ini terletak diantara renal capsule dan Medulla. Bagian atas nephron, yaitu glomerulus dan Henle's loop berada di lapisan ini. Renal cortex adalah jaringan yang kuat yang melindungi lapisan dalam ginjal. Pada orang dewasa, renal cortex membentuk zona luar yang halus tersambung dengan projectil (kolom kortikal) yang menjulur diantara piramid. Dalam lapisan ini terdapat renal corpusle dan renal tubules kecuali untuk bagian dari Henle's loop yang turun kedalam renal medulla. Renal cortex juga mengandung pembuluh darah dan kortikal pembuluh penampung.
Renal Medulla (Renal Pyramids)
Renal Medulla berada dibawah Cortex. Bagian ini merupakan area yang berisi 8 sampai 18 bagian berbentuk kerucut yang disebut piramid, yang terbentuk hampir semuanya dari ikatan saluran berukuran mikroskopis. Ujung dari tiap piramid mengarah pada bagian pusat dari ginjal. Saluran ini mengangkut urin dari cortical atau bagian luar ginjal, dimana urin dihasilkan, ke calyces. Calyces merupakan suatu penampung berbentuk cangkir dimana urin terkumpul sebelum mencapai kandung kemih melalui ureter. Ruang diantara piramid diisi oleh cotex dan membentuk struktur yang disebut renal columns.

Ujung dari tiap pyramid, yang disebut papilla, menuju pada Calyces di pusat tengah ginjal. Permukaan papilla memiliki penampilan seperti saringan karena banyaknya lubang-lubang kecil tempat dimana tetesan urin lewat. Setiap lubang merupakan ujung dari sebuah saluran yang merupakan bagian dari nephron, yang dinamakan saluran Bellini; dimana semua saluran pengumpul didalam piramid mengarah. Serat otot mengarah dari calyx menuju papilla. Pada saat serat otot pada calyx berkontraksi, urin mengalir melalui saluran Bellini kedalam calyx(calyces). Urin kemudian mengalir ke kandung kemih melalui renal pelvis dan ureter.
Renal Pelvis
Renal Pelvis berada di tengah tiap ginjal sebagai saluran tempat urin mengalir dari ginjal ke kandung kemih. Bentuk renal pelvis adalah seperti corong yang melengkung di satu sisinya. Renal pelvis hampir seluruhnya dibungkus dalam lekukan dalam pada sisi cekung ginjal, yaitu sinus. Ujung akhir dari pelvis memiliki bentuk seperti cangkir yang disebut calyces.
Renal pelvis dilapisi oleh lapisan membran berselaput lendir yang lembab yang hanya beberapa sel tebalnya. Membran ini terkait kepada bungkus yang lebih tebal dari serat otot yang halus, yang dibungkus lagi dengan lapisan jaringan yang terhubung. Membran berselaput lendir pada pelvis ini agak berlipat sehingga terdapat ruang bagi jaringan untuk mengembang ketika urin menggelembungkan pelvis. Serat otot tertata dalam lapisan longitudinal dan melingkar. Kontraksi lapisan otot terjadi dengan gelombang yang bersifat periodik yang disebut gerak peristaltis pelvis. Gerakan ini mendorong urin dari pelvis menuju ureter dan kandung kemih. Dengan adanya pelapis pada pelvis dan ureter yang tidak dapat ditembus oleh substansi normal dalam urin, maka dinding struktur ini tidak menyerap cairan.
Vena Renal dan Arteri Renal

Dua dari pembuluh darah penting, vena renal dan arteri renal. Dua pembuluh ini merupakan percabangan dari aorta abdominal (bagian abdominal dari arteri utama yang berasal dari jantung) dan masuk kedalam ginjal melalui bagian cekung ginjal.
Di bagian dalam pada sisi cekung dari tiap ginjal, terdapat lubang, yang dinamakan hilum, tempat dimana arteri renal masuk. Setelah masuk melalui hilum, arteri renal terbagi menjadi dua cabang besar, dan setiap cabang terbagi menjadi beberapa arteri yang lebih kecil yang membawa darah ke nephron, unit fungsional dari ginjal. Darah yang telah diproses oleh nephron akhirnya mencapai vena renal, yang membawa darah kembali ke cava vena inferior dan ke sisi kanan jantung.
Arteri renal mengangkut 1,2 liter darah per menit ke ginjal pada manusia normal, suatu jumlah yang ekuivalen dengan sekitar seperempat dari output jantung. Dengan demikian, jumlah volume darah yang sama dengan darah dalam tubuh manusia normal dewasa, diproses dalam ginjal sebanyak satu dalam setiap empat atau lima menit. Meskipun beberapa kondisi fisik dapat menghambat aliran darah, terdapat mekanisme pengatur-mandiri tertentu yang terdapat pada arteri ginjal yang memungkinkan suatu adaptasi terhadap keadaan yang berbeda.
Ketika tekanan darah tubuh naik atau turun, sensor penerima dari sistem saraf yang terletak dalam otot halus dinding arteri terpengaruh oleh perbedaan tekanan, dan, untuk menghilangkan kenaikan atau penurunan tekanan darah, arteri dapat melebar atau menyempit untuk menjaga jumlah volume aliran darah.


Nephron

Fungsi ginjal yang paling penting adalah untuk membuang zat limbah dari darah. Nephrons merupakan unit fungsional dari ginjal dalam menjalankan fungsi ini. Nephron menghasilkan urin dalam proses membuang limbah dan zat-zat berlebihan dari darah. Ada sekitar 1.000.000 nephron dalam tiap ginjal manusia. Struktur luar biasa ini, terletak antara cortex dan medulla. Dibawah pembesaran, nephron terlihat seperti pembuluh atau saluran kusut, namun tiap nephron sebenarnya memiliki susunan yang tertentu sehingga memungkinkan proses penyaringan limbah dalam darah. Tiap nephron pada ginjal mamalia dapat mencapai panjang 30-55 mm. pada satu ujung nefron tertutup, melebar dan melipat membentuk struktur berbentuk cangkir berdinding dua. Struktur ini disebut corpuscular capsule, atau Bowman's Capsule. Capsule ini membungkus glomerulus, struktur utama nefron dalam fungsi penyaringan. Struktur nefron dijelaskan secara detil dibawah ini:
1). Glomerulus

Glomerulus adalah filter utama dari nefron dan terletak dalam Bowman's capsule. Glomerulus dan seluruh Bowman's capsule membentuk renal corpuscle, unit filtrasi dasar dari ginjal. Dari Bowman capsule, keluar pembuluh sempit, disebut proximal convoluted tubule. Tubule ini berkelok-kelok sampai berakhir pada saluran pengumpul yang menyalurkan urin ke renal pelvis.
Glomerulus adalah suatu jaringan yang terdiri dari pembuluh darah yang luar biasa tipisnya yang disebur kapileri. Glomerulus membentuk saluran berlipat yang sangat banyak tempat lewatnya darah. Glomerulus bersifat semipermeable (dapat ditembus air), memungkinkan air dan larutan limbah tembus dan dikeluarkan dari kapsul Bowman dalam bentuk urin. Darah yang telah disaring keluar dari glomerulus melalui Efferent arteriole untuk menuju ke vena intralobular melalui plexus medullary.Seluruh larutan tersaring dihasilkan oleh glomerulus kemudian masuk ke Bowman's Capsule. Pada saat cairan ini melewati proximal convoluted tubule, sebagian besar air dan garam diserap kembali, sebagian larutan lain diserap seluruhnya, sebagian yang lain hanya sebagian.

Glomerulus merupakan suatu bongkahan pembuluh kapiler yang diselubungi oleh kapsul Bowman dalam nefron. Glomerulus memperoleh suplai darah dari afferent arteriole pada sirkulasi renal. Tidak seperti pangkal dari pembuluh kapiler lainnya, glomerulus bermuara pada efferent arteriole dan tidak pada cabang venna. Hambatan yang diberikan oleh arteriole menghasilkan tekanan tinggi dalam glomerulus yang membantu proses ultrafiltrasi dimana cairan dan zat-zat terlarut dalam darah dipaksa keluar dari kapileri ke Kapsul Bowman. Angka yang menunjukkan darah yang dibersihkan oleh seluruh glomeruli dan merupakan ukuran dari fungsi ginjal secara keseluruhan disebut glomerular filtration rate (tingkat penyaringan glomerular).
2) Henle's Loop

Loop Henle merupakan bagian dari tubulus renal yang kemudian menjadi sangat sempit yang menjulur jauh kebawah kapsul Bowman dan kemudian naik lagi keatas membentuk huruf U. Di sekeliling Loop Henle dan bagian lain tubulus renal terdapat jaringan kapiler, yang terbentuk dari pembuluh darah kecil yang bercabang dari glomerulus.
Cairan yang masuk kedalam loop merupakan larutan yang terdiri dari garam, urea, dan zat lain yang berasal dari glomerulus melalui proximal convoluted tubule. Pada tubulus ini, sebagian besar komponen terlarut yang dibutuhkan tubuh, terutama glukosa, asam amino, dan sodium bikarbonat, diserap kembali kedalam darah. Bagian pertama dari loop, yaitu cabang yang menurun, bersifat dapat ditembus oleh air, dan cairan yang mencapai lekukan dari loop ini jauh lebih banyak mengandung garam dan urea dibandingkan dengan plasma darah.
Pada saat cairan mengalir naik kembali melalui pembuluh naik, sodium klorida dikeluarkan dari pembuluh ke jaringan sekelilingnya, dimana konsentrasinya lebih rendah. Pada bagian ketiga dari loop ini, dinding pembuluhnya apabila diperlukan dapat membuang, bahkan dalam keadaan berlawanan dengan gradien konsentratnya, dalam proses aktif yang memerlukan lebih banyak energi. Pada tubuh orang normal, penyerapan kembali garam dari urin hanya dilakukan dalam keadaan konsumsi garam yang rendah. Namun pada saat garam dalam darah tinggi, kelebihan garam ini dibuang.

3) Renal Collecting Tubule(Tubulus Pengumpul)
Disebut juga Pembuluh Bellini, suatu pembuluh kecil sempit yang panjang dalam ginjal yang mengumpulkan dan mengangkut urin dari nefron, menuju pembuluh yang lebih besar yang terhubunng dengan calyses ginjal. Cairan yang berasal dari loop Henle masuk kedalam Distal Convoluted Tubule (Tubulus Konvolusi Distal) dimana penyerapan kembali sodium berlanjut sepanjang seluruh tubulus distal. Penyerapan kembali ini tetap terjadi hingga bagian awal dari Tubulus pengumpul ginjal.
Setiap tubulus pengumpul memiliki panjang sekitar 20-22 mm dan berdiameter 20-50 micron. Dinding dari tubulus tersusun dari sel dengan proyeksi seperti rambut, lentur seperti cambuk, dalam pembuluh ini. Gerakan dari sel cambuk ini membantu gerakan sekresi sepanjang pembuluh. Pada saat tubulus pengumpul menjadi lebih lebar diameternya, tinggi sel ini meningkat sehingga dinding menjadi lebih tebal.
Fungsi dari tubulus pengumpul adalah pengangkutan urin dan penyerapan air. Telah diketahui bahwa jaringan dari medula ginjal atau bagian dalamnya, mengandung konsentrasi sodium yang tinggi. Ketika tubulus pengumpul ini berada pada medula, konsentrasi sodium menyebabkan dikeluarkannya air dari seluruh dinding tubulus keluar ke medulla. Air bercampur diluar diantara sel-sel dinding tubulus sampai konsentrasi sodium seimbang antara didalam tubulus dan diluarnya. Pembuangan air dari larutan dalam tubulus membuat urin menjadi lebih kental dan menghemat badan air dalam tubuh.


2.2    Peredaran Darah Ginjal
Arus Darah
Ginjal akan mendapat 1,2-1,3 liter darah per menit pada orang dewasa yang sedang istirahat, atau sedikit lebih kecil daripada 25% curah jantung. Karena yang difiltrasi oleh ginjal adalah plasma, maka arus plasma ginjal dapat diukur, yaitu dengan mengetahui jumlah zat yang dieksresi oleh ginjal persatuan waktu dibagi oleh perbedaan kadar zat tersebut di darah arteri dan vena ginjal selama jumlah sel darah merah tidak berubah saat peredarannya melalui ginjal.
  
Zat apapun yang diekskresi oleh ginjal dapat digunakan bila dapat diukur kadarnya dalam plasma arteri dan vena ginjal serta tidak diubah, disimpan atau dibentuk oleh ginjal dan tidak mempengaruhi arus darah ginjalnya sendiri.

Arus plasma ginjal dapat diukur dengan memberi infus asam para-aminohipurat (PAH) dan mengukur kadarnya dalam urin dan plasma. PAH difiltrasi oleh glomerulus dan disekresi oleh sel tubulus sehingga rasio ekstrasinya tinggi.

2.3 Filtrasi Glomerulus
Darah yang masuk ke dalam nefron melalui arteriol aferen dan selanjutnya menuju glomerulus akan mengalami filtrasi, tekanan darah pada arteriol aferen relatif cukup tinggi sedangkan pada arteriol eferen relatif lebih rendah, sehingga keadaan ini menimbulkan filtrasi pada glomerulus. Cairan filtrasi dari glomerulus akan masuk menuju tubulus, dari tubulus masuk kedalam ansa henle, tubulus distal, duktus koligentes, pelvis ginjal, ureter, vesica urinaria, dan akhirnya keluar berupa urine. Membran glomerulus mempunyai ciri khas yang berbeda dengan
lapisan pembuluh darah lain, yaitu terdiri dari: lapisan endotel kapiler, membrane basalis, lapisan epitel yang melapisi permukaan capsula bowman. Permiabilitas membarana glomerulus 100-1000 kali lebih permiabel dibandingkan dengan permiabilitas kapiler pada jaringan lain.
Gambar Membran Glomerulus

Laju filtrasi glomerulus (GFR= Glomerulus Filtration Rate) dapat diukur dengan menggunakan zat-zat yang dapat difiltrasi glomerulus, akan tetapi tidak disekresi maupu direabsorpsi oleh tubulus. Kemudian jumlah zat yang terdapat dalam urin diukur persatuan waktu dan dibandingkan dengan jumlah zat yang terdapat dalam cairan plasma.

Pengaturan GFR (Glomerulus Filtration Rate)
Rata-rata GFR normal pada laki-laki sekitar 125 ml/menit. GFR pada wanita lebih rendah dibandingkan pada pria. Factor-faktor yang mempengaruhi besarnya GFR antara lain ukuran anyaman kapiler, permiabilitas kapiler, tekanan hidrostatik, dan tekanan osmotik yang terdapat di dalam atau diluar lumen kapiler. Proses terjadinya filtrasi tersebut dipengaruhi oleh adanya berbagai tekanan sebagai berikut:
a. Tekanan kapiler pada glomerulus 50 mm HG
b. Tekanan pada kapsula bowman 10 mmHG
c. Tekanan osmotik koloid plasma 25 mmHG
Ketiga faktor diatas berperan penting dalam laju peningkatan filtrasi. Semakin tinggi tekanan kapiler pada glomerulus semakin meningkat filtrasi dan sebaliknya semakin tinggi tekanan pada kapsula bowman. serta tekanan osmotik koloid plasma akan menyebabkan semakin rendahnya filtrasi yang terjadi pada glomerulus.
Ketiga faktor diatas berperan penting dalam laju peningkatan filtrasi. Semakin tinggi tekanan kapiler pada glomerulus semakin meningkat filtrasi dan sebaliknya semakin tinggi tekanan pada kapsula bowman. serta tekanan osmotik koloid plasma akan menyebabkan semakin rendahnya filtrasi yang terjadi pada glomerulus.


Komposisi Filtrat Glomerulus
Dalam cairan filtrat tidak ditemukan eritrosit, sedikit mengandung protein (1/200 protein plasma). Jumlah elektrolit dan zat-zat terlarut lainya sama dengan yang terdapat dalam cairan interstitisl pada umunya. Dengan demikian komposisi cairan filtrate glomerulus hampir sama dengan plasma kecuali jumlah protein yang terlarut. Sekitar 99% cairan filtrate tersebut direabsorpsi kembali ke dalam tubulus ginjal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju filtrasi glomerulus sebagai berikut:
a.    Tekanan glomerulus: semakin tinggi tekanan glomerulus semakin tinggi laju filtrasi, semakin tinggi tekanan osmotic koloid plasmasemakin menurun laju filtrasi, dan semakin tinggi tekanan capsula bowman semakin menurun laju filtrasi.
b.    Aliran darah ginjal, semakin cepat aliran daran ke glomerulus semakin meningkat laju filtrasi.
c.    Perubahan arteriol aferen: apabial terjadi vasokontriksi arteriol aferen akan menyebabakan aliran darah ke glomerulus menurun. Keadaan ini akan menyebabakan laju filtrasi glomerulus menurun begitupun sebaliknya.
d.    Perubahan arteriol efferent: pada kedaan vasokontriksi arteriol eferen akan terjadi peningkatan laju filtrasi glomerulus begitupun sebaliknya.

2.4    Mekanisme Reabsorpsi dan Sekresi di Tubulus
Molekul protein berukuran kecil dan beberapa hormon peptide mengalami reabsorpsi melalui proses endositosis di tubulus proksimal. Zat-zat lain disekresi atau direbsorpsi di tubulus melalui proses difusi pasif antara sel dan melalui sel oleh difusi fasilitasi menurut tingkat perbedaan tersebut. Perpindahan ini melalui kanal ion, pertukaran ion, kotransport dan pompa ion, yang sebagian besar telah diklon dan pengaturan pembentukannya dipelajari.

Fungsi normal kanal ion ini belum jelas diketahui, tetapi kedua protein ini abnormal pada penyakit ginjal polikistik autosomal dominan, yang menyebabkan parenkim ginjal lambat laun diganti dengan kista berisi cairan sampai akhirnya terjadi kegagalan ginjal total.

Perlu juga diketahui bahwa epitel kubus, seperti juga usus halus dan kandung empedu, merupakan epitel yang bocor (leaky) sehingga tight junction  melewatkan sejumlah air dan elektrolit. Seberapa besar kebocoran melalui jalur paraseluler ini menambah jumlah cairan yang keluar dan masuk tubulus masih diperdebatkan karena sulit untuk diukur, tetapi bukti yang diperoleh cenderung mengatakan cukup berarti. Pengaruh reabsorpsi dan sekresi tubulus pada zat-zat yang mempunyai peran fisiologis penting.

2.5    Reabsorpsi Na+
Reabsorpsi Na+ dan Cl- memegang peran utama dalam metabolisme elektrolit dan cairan tubuh. Selain itu, transport Na+ berlangsung bersama (coupled) dengan transport H+, elektrolit lainnya, glukosa, asam amino, asam organik, fosfat, dan zat lain yang melewati tubulus.

Kontransporter dan exchanger yang terdapat di berbagai bagian nefron. Di tubulus proksimal, ansa Henle pars asendens bagian yang tebal, tubulus distal, dan duktus koligentes, proses perpindahan Na+  berlangsung melalui kontranspor atau pertukaran ion dari lumen tubulus ke dalam sel epitel tubulus mengikuti tingkat perbedaan konsentrasi dan listriknya dan kemudian dipompa secara aktif dari sel tubulus ke ruang intersitium. Dengan demikian, Na+ akan ditranspor secara aktif keluar seluruh bagian tubulus ginjal kecuali dari ansa Henle bagian yang tipis. Na+ dipompa ke ruang intersitium oleh pompa Na+ - K+ ATPase. Kerja pompa Na+ yang terdapat dihampir semua sel tubuh. Pompa ini akan mengeluarkan 3 Na+ dan memasukkan 2 K+ ke dalam sel.

Lokasi    Transporter Apikal    Fungsi
Tubulus Proksimal    Na+ / KT glukosa    Reabsorpsi Na+  dan  glukosa
    Na+ / KT Pi    Reabsorpsi Na+  dan Pi
    KT Na+ asam amino    Reabsorpsi Na+ dan asam amino
    Na+ / KT laktat    Reabsorpsi Na+ dan laktat
    Na+ /H+ exchanger    Reabsorpsi Na+ dan ekstrusi H
    Cl- / basa exchanger    Reabsorpsi Cl-
Pars asendens bagian tebal    KT Na+ , 2Cl- , K+    Reabsorpsi Na+ , Cl- dan K+
    Na+ / H+ exchanger    Reabsorpsi Na+ dan ekstrusi H+
    Kanal K+    Ekstrusi K+ (daur ulang)
Tubulus Kontortus Distal    KT NaCl    Reabsorpsi Na+ dan Cl-
Duktus Koligens    Kanal Na+ (ENaC)    Reabsorpsi Na+

Hasil reabsorpsi tubulus proksimal bersifat agak hipertonik, sehingga akan menarik air secara pasif karena perbedaan osmotic yang disebabkan oleh absorpsi air kedalam sel epitel tubulus. Saat ini diketahui bahwa membrane sel epitel tubulus sebelah apical mengandung kanal air yang membantu perpindahan air yang bergerak ke ruang intersel lateral. Na+ dan H2O akan bocor dan kembali ke lumen tubulus melaui hubungan intersel, terutama bila ruang intersel lateral ini melebar.


2.6    Reabsorpsi Glukosa
Glukosa, asam amino, dan bikarbonat direabsorpsi bersama-sama dengan Na+ di bagian awal tubulus proksimal. Mendekati akhir tubulus, Na+ akan direabsorpsi bersama-sama dengan Cl-. Glukosa merupakan contoh zat yang direabsorpsi melalui transport aktif sekunder. Laju filtrasi glukosa kira-kira 100 mg/menit (80 mg/dL plasma × 125 mL/menit). Hampir semua glukosa direabsorpsi, dan hanya bebarapa milligram saja yang dapat dijumpai di urin 24 jam.

Mekanisme Transpor Glukosa
Proses reabsorpsi glukosa di ginjal menyarupai proses reabsorpsi glukosa di usus halus. Glukosa dan Na+  akan diikat oleh karier yang sama yaitu SGLT 2 di membrane yang menghadap ke lumen dan glukosa dibawa oleh karier masuk kedalam sel bersamaan dengan masuknya Na+  ke dalam sel mengikuti perbedaan muatan listrik dan kimianya. Na+  kemudian akan dipompa keluar sel ke ruang intersel lateral, sedangkan glukosa diangkut ke luar sel oleh GLUT 2 ke cairan interstisium. Dengan demikian, transport glukosa di ginjal, dan juga usus halus, merupakan contoh transport aktif sekunder.

Karier ini berikatan secara spesifik dengan isomer d glukosa, sehingga kecepatan transpor d-glukosa ini jauh lebih tinggi dibandingkan l-glukosa. Seperti juga di usus halus, transpor glukosa di ginjal dapat dihambat oleh florhizin, suatu glukosida yang berasal dari tanaman. Florhizin akan bersaing dengan d-glukosa untuk ikatan dengan simport (karier) ini.


2.7     Ekskresi Air
Dalam keadaan normal sebanyak 180 liter cairan difiltrasi oleh glomerulus tiap hari, sedangkan volume urin rata-rata tiap hari sekitar 1 liter. Jumlah zat terlarut yang sama juga dapat diekskresikan per 24 jam dalam urin yang hanya bervolume 500 ml dengan kepekatan 1400mosm/kg, atau dalam urin sebanyak 23,3 liter dan kepekatan yang sangat rendah, yaitu 30 mosm/kg. Nilai-nilai ini menunjukkan 2 hal yang penting: pertama, paling sedikit 87% air difiltrasi akan direabsorpsi, meskipun volume urin 23 liter; kedua, reabsorpsi sisa air yang telah mengalami filtrasi dapat bervariasi tanpa mempengaruhi jumlah total zat terlarut yang diekskresi. Dengan demikian, bila urin pekat, terjadi retensi air dibandingkan zat terlarut; dan bila urin encer, terjadi ekskresi air yang lebih dibandingkan zat terlarut. Kedua hal ini memiliki arti penting dalam konservasi dan pengaturan osmolalitas cairan tubuh. Pengaturan ekskresi air terutama dilakukan oleh hormone vasopressin yang bekerja pada duktus koligentes.

2.8    Pengasaman Urin dan Eksresi Bikarbonat
Sekresi H+
Sel tubulus proksimal dan distal, seperti juga sel kelenjar lambung, menyekresi ion hidrogen. Pengasaman juga akan terjadi di duktus koligentes. Reaksi utama untuk sekresi H+ di tubulus proksimal ialah pertukaran Na+ - H+. Pemompaan ke luar Na+ dari sel ke interstisium oleh pompa Na+ - K+ ATPase akan menurunkan Na+ intrasel, dan hal ini menyebabkan Na+ di lumen tubulus masuk ke dalam sel, bersamaan dengan pemompaan H+ ke lumen tubulus. H+ ini berasal dari reaksi disosiasi H2CO3 intrasel dan HCO3- yang terbentuk akan berdifusi ke cairan interstisial.
  
Anhidrase karbonat mengatalis pembentukan H2CO3 dan obat-obat yang menghambat anhidrase karbonat menekan sekresi asam oleh tubulus proksimal serta reaksi yang bergantung padanya. Terdapat beberapa bukti bahwa H+ disekresikan di tubulus proksimal dengan pompa jenis lain, tapi bukti untuk pompa tambahan ini masih kontroversial, dan pada setiap kasus peranannya relatif kecil dibandingkan dengan mekanisme pertukaran Na+ - H+. Hal ini berlawanan dengan yang terjadi di tubulus distal dan duktus koligentes, dimana sekresi H+  relatif tidak bergantung pada Na+ di lumen tubulus. Di bagian tubulus ini, sebagian besar H+ disekresikan melalui pompa proton yang digerakkan oleh ATP.

Aldosteron bekerja pada pompa ini untuk meningkatkan  sekresi H+ di bagian distal. Sel I di bagian tubulus ginjal ini mensekresikan asam, dan seperti sel parietal di lambung, sel I mengandung banyak anhidrase karbonat dan struktur tubulovesikular. Didapatkan bukti bahwa ATPase yang memindahkan H+ menyebabkan sekresi H+ terletak pada vesikel-vesikel ini ataupun dalam membrane sel luminal, dan bahwa pada asidosis, jumlah pompa H+ meningkat akibat masuknya tubulovesikel ini ke dalam membran sel luminal. Sebagian H+ juga disekresi oleh H+ - K+ ATPase. Sel-sel ini juga mengandung Band 3, suatu protein penukar anion, di membrane sel basolateralnya, dan protein ini dapat berfungsi sebagai penukar Cl- - HCO3- bagi pengangkutan HCO3- ke cairan interstisium.

H+  di Urin
Jumlah asam yang disekresikan bergantung pada peristiwa-peristiwa di urin tubulus selanjutnya. Pada manusia, tingkat perbedaan H+ maksimal yang harus dilawan oleh mekanisme transport untuk dapat menyekresi berhubungan dengan pH urin sekitar 4,5; yaitu kadar H+ dalam urin yang besarnya 1000 kali kadarnya di plasma. Dengan demikian, pH 4,5 merupakan pH pembatas, yang dalam keadaan normal dicapai di duktus koligentes.

Sekresi Amonia
Reaksi di sel tubulus ginjal menghasilkan H+ dan HCO3-. NH4 berada dalam keseimbangan dengan NH3 + H+ di dalam sel. Namun, NH3 bersifat larut dalam tingkat perbedaan konsentrasinya ke dalam cairan interstisium dan urin tubulus. Reaksi utama yang menghasilkan NH4 dalam sel adalah perubahan glutamine menjadi glutamate. Reaksi ini dikatalis oleh enzim glutaminase, yang banyak terdapat di sel tubulus ginjal.

2.9    Pengisian Vesika Urinaria
Dinding ureter terdiri dari otot polos yang tersusun spiral, memanjang, dan melingkar, tetapi batas lapisan yang jelas tidak ditemukan. Kontraksi peristaltik yang teratur timbul 1-5 kali tiap menit akan mendorong urine dari pelvis renis menuju vesika urinaria, dan akan masuk secara periodik sesuai dengan gelombang peristaltik. Ureter menembus dinding vesika secara miring, dan meskipun tidak ada sfingter ureter, kemiringan ureter ini cenderung akan menjepit ureter sehingga ureter tertutup kecuali selama adanya gelombang peristaltic, dan refluks urin dari vesika dapat dicegah.

2.10    Pengosongan Vesika Urinaria
Miksi atau berkemih pada dasarnya merupakan refleks spinal yang akan difasilitasi dan dihambat oleh pusat-pusat susunan saraf yang lebih tinggi, seperti defekasi, fasilitasi dan inhibisi bersifat volunteer. Urin yang memasuki vesika tidak begitu meningkatkan tekanan intravesika sampai telah terisi penuh. Selain itu, seperti juga jenis otot polos lainnya, otot vesika memiliki sifat plastis; bila diregang, ketegangan yang mula-mula timbul tidak akan dipertahankan.

Selama proses berkemih, otot-otot perineum dan sfingter uretra eksterna berelaksasi; sedangkan otot detrusor berkontraksi; dan urin akan mengalir melalui uretra. Kontraksi otot-otot perineum dan sfingter eksterna dapat dilakuakn secara volunteer, sehingga mencegah urin untuk mengalir melewati uretra atau menghentikan aliran urin saat sedang berkemih.


III PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari makalah ini dapat diambil kesimpulan:
1.    Bahwa ginjal merupakan organ pada sistem eksresi. Zat-zat yang diekskresi adalah zat-zat sisa, seperti Na+ , air, glukosa, dan lain-lain.
2.    Transport zat pada ginjal secara seluler terjadi pada saat pembentukan urin.
3.    Pembentukan urin melalui 3 tahap, yaitu filtrasi atau penyaringan, reabsorpsi atau penyerapan, dan augmentasi atau penambahan zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi yang dijelaskan pada subbab pengasaman urin dan ekskresi bikarbonat.

Kamis, 21 Juli 2011

Sistem Ekskresi

1. hati

2. kulit

3. paru-paru

4. ginjal

Ekskresi adalah proses pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna lainnya. Ekskresi merupakan proses yang ada pada semua bentuk kehidupan. Pada organisme bersel satu, produk buangan dikeluarkan secara langsung melalui permukaan sel. Organisme multiselular memiliki proses ekskresi yang lebih kompleks.

FUNGSI PARU-PARU


Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan KARBONDIOKSIDA (CO2) dan UAP AIR (H2O).


Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung.

HATI

Hati merupakan “kelenjar” terbesar yang terdapat dalam tubuh manusia. Letaknya di dalam rongga perut sebelah kanan. Berwarna merah tua dengan berat mencapai 2 kilogram pada orang dewasa. Hati terbagi menjadi dua lobus, kanan dan kiri.

Zat racun yang masuk ke dalam tubuh akan disaring terlebih dahulu di hati sebelum beredar ke seluruh tubuh. Hati menyerap zat racun seperti obat-obatan dan alkohol dari sistem peredaran darah. Hati mengeluarkan zat racun tersebut bersama dengan getah empedu.

FUNGSI HATI

Hati merupakan organ yang sangat penting, berfungsi untuk:

1. Menghasilkan empedu yang berasal dari perombakan sel darah merah
2. Menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan membunuh bibit penyakit
3. Mengubah zat gula menjadi glikogen dan menyimpanya sebagai cadangan gula
4. Membentuk protein tertentu dan merombaknya
5. Tempat untuk mengubah pro vitamin A menjadi vitamin
6. Tempat pembentukan protrombin yang berperan dalam pembekuan darah


KULIT

Seluruh permukaan tubuh kita terbungkus oleh lapisan tipis yang sering kita sebut kulit. Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang utama karena berada di lapisan anggota tubuh yang paling luar dan berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar.

Fungsi kulit antara lain sebagai berikut:
- mengeluarkan keringat
- pelindung tubuh
- menyimpan kelebihan lemak
- mengatur suhu tubuh, dan
- tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet

Proses Pembentukan Keringat

Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita tinggi, pembuluh-pembuluh darah di kulit akan melebar. Hal ini mengakibatkan banyak darah yang mengalir ke daerah tersebut. Karena pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan pembuluh darah maka terjadilah penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar keringat. Kemudian air bersama larutannya keluar melalui pori-pori yang merupakan ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar membawa panas tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal.

GINJAL

Dunia kedokteran biasa menyebutnya ‘ren’ (renal/kidney). Bentuknya seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang. Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya antara 120-170 gram. Struktur ginjal terdiri dari: kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal terdapat jutaan nefron yang berfungsi sebagai penyaring darah. Setiap nefron tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang bergelung. Badan Malpighi tersusun oleh Simpai Bowman (Kapsula Bowman) yang didalamnya terdapat Glomerolus.

FUNGSI GINJAL
1. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh
2. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan
3. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal
4. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia
5. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang

PROSES PEMBENTUKAN URINE

Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.

1. Filtrasi

Pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan.


Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.

Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya

2. Reabsorbsi

Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea.

Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.

Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin.

Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.

3. Augmentasi

Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra.

Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.

Rabu, 13 Juli 2011

Keuntungan Organisme Endotermi


karena aktivitas metabolik suatu organisme merupakan fungsi dari temperatur (seperti juga pergerakan tubuh secara umum).

Organisme ektotermik hidupnya terbatasi oleh temperatur lingkungan. Dalam suhu dingin yang eksterm, organisme ektotermik menjadi luar biasa lamban seiring melambatnya proses-proses kehidupan; jika temperatur naik, organisme ektotermik pun menjadi luar biasa aktif. Sebaliknya mamalia dan burung yang endotermik menjaga temperatur internal yang relatif konstan berkat ekanisme yang dievolusikan bagi penahanan panas dalam tubuh dan pembuangan panas keluar. Ingatlah bahwa respirasi seluler (termasuk glikolisis, siklus krebs, dan rantai transpor elektron) tingkat efisiensinya 40 persen. Energi yang tidak tersimpan secara efektif sebagai ATP (yang 60 persen) dilepas sebagai panas. Panas tersebut, jika terkumpul secara efektif membantu penjagaan temperatur tubuh yang konstan pada organisme endotermik. Dengan demikian, burung dan mamalia pun menikmati kemewahan hidup, tanpa dipengaruhi fluktuasi yang eksterm. Karena temperatur tubuh organisme endotermik dijaga pada tingkat yang relatif tinggi (37-40°C), tingkat aktivitasnya biasanya tinggi dan tingkatannya lebih intensif dalam hal pergerakan, perlanjaan, eksplorasi lingkungan, dan lain-lain. Organisme endotermik juga lebih fleksibel dalam memilih habitatnya, sebab temperatur internalnya dapat dipertahankan dalam berbagai kondisi. Hal tersebut memberikan keuntungan kompetitif dalam pergulatan untuk hidup dengan organisme-organisme lainnya.

Senin, 11 Juli 2011

Makalah Keringat

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kulit adalah organ yang penting bagi tubuh manusia, kulit berfungsi sebagai alat pengeluaran berupa kelenjar keringat, sebagai alat peraba,sebagai pelindung organ dibawahnya dan  tempat dibuatnya Vit D dengan bantuan sinar matahari, pengatur suhu tubuh dan tempat menimbun lemak. Jika terjadi gangguan pada kulit tentunya akan mengganggu organ lainnya. Perawatan luka pada kulit bertujuan untuk mengembalikan fungsi normal kulit dan mempercepat penyembuhan luka pada kulit akibat trauma atau insisi. Dalam makalah ini akan dibahas anatomi fisiologi dan perawatan luka pada kulit.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana integritas kulit dan perawatan luka,
2. Mengetahui teori tentang luka dan system integumen, dan
3. Mengetahui bagaimana hubungan system integument dan perawatan luka

1.3 Metode Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 3 bab utama. Bab I berisi tentang latar belakang dari penulisan makalah ini, tujuan di adakannya penulisan, dan metode penulisan makalah ini. Bab II merupakan bagian yang berisi penjelasan tentang tinjauan pustaka, yang membahas materi/pokok bahasan makalah ini,yakni  integritas kulit dan perawatan luka. Bab III merupakan bagian terakhir yang berisi kesimpulan dan saran.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keringat
Berkeringat adalah mekanisme alami untuk mengatur suhu tubuh saat bereaksi terhadap kondisi  panas atau melakukan aktivitas fisik yang menguras tenaga. Keringat dihasilkan oleh kelenjar  keringat di lapisan dermis kulit dan keluar melalui pori-pori. Keringat yang berlebihan padahal tidak ada kegiatan fisik yang berat dapat karena berbagai hal : kegemukan atau  kebanyakan mengkonsumsi makanan atau menjelang dan awal haid.Berkeringat banyak disertai gejala lain seperti tangan gemetar, berat badan  turun, sering berdebar, dan mata menonjol keluar kemungkinan ada kelainan fungsi kelenjar gondok. Bila tidak ada keluhan lain, kemungkinan karena kecemasan. Volume keringat pria jauh lebih banyak dibandingkan volume  keringat wanita. Ini menandakan bahwa tubuh wanita sangat buruk dalam mendinginkan tubuh dari panas yang ditimbulkan oleh aktifitas kerja. Karena fungsi keringat adalah untuk menurunkan suhu tubuh yang meninggi sewaktu melakukan aktifitas berat.selain itu ternyata keluarnya keringat melalui pori-pori kulit sangat baik bagi kesehatan tubuh apalai keluarnya keringat di karnakan manusia sering berolahraga. Keringat yang keluar ternyata membawa serta toxin atau racun-racun yang ada di dalam tubuh. Jadi, orang yang sering berkeringat lebih sehat dibandingkan orang yang jarang mengeluarkan keringatnya.Oleh sebab itu dapat kita tarik kesimpulan bahwa mulai saat ini Anda tidak perlu ragu untuk berkeringat, karena berkeringat itu menyehatkan tubuh kita. Dan satu hal yang  perlu diperhatikan adalah  menjaga cairan yang keluar  melalui keringat agar tetap dalam keadaan  normal,ini  sangat penting sekal bagi tubuh kitai. Oleh sebab  itu, minum air putih disela-sela aktifitas adalah sangat dianjurkan sekali agar terhindar dari dehidrasi,dan bibir mengering atau bibir pecah – pecah.

2.2 Mekanisme Pengeluaran Keringat
Pada umumnya keringat diproduksi karena rangsang dari luar seperti perubahan panas atau suhu. Hal ini dilakukan sebagai mekanisme tubuh dalam mempertahankan kelembaban kulit. Selain itu produksi keringat juga bisa disebabkan  rangsangan dari dalam seperti emosi, rasa takut dan gugup. Jadi produksi keringat ini bisa dipengaruhi faktor dari dalam atau faktor dari luar berupa perubahan lingkungan.
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37°C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1°C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salah satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis.

Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.

Bau badan dan bau kaki  merupakan salah satu dari sekian banyak persoalan yang kita hadapi. bau badan muncul ketika terjadi kontak antara beberapa jenis bakteri di permukaan kulit dengan keringat yang keluar dari bagian tubuh. bakteri tesebut kemudian menguraikan lemak dan protein dalam keringat dan menghasilkan senyawa asam. senyawa asam ini yang menyebabkan bau tak sedap pada tubuh kita.

kulit manusia mempunyai dua macam kelenjar yang menghasilkan keringat. kelenjar pertama disebut eccrine, yang tersebar di hampir seluruh permukaan tubuh. jumlahnya 1.000-2.000 kelenjar untuk setiap inci kulit manusia. kelenjar ini berfungsi menurunkan temperatur tubuh pada kondisi panas atau usai beraktivitas. kelenjar yang kedua adalah kelenjar apocrine, kelenjar ini terutama terdapat pada daerah perakaran rambut. kelenjar apocrine terkonsentrasi pada bagian-bagian tubuh seperti ketiak, lipatan paha, daerah kemaluan, sekitar puting susu, dan pada daerah kaki. kelenjar yang dihasilkan lebih kental dan berminyak, karena mengandung lemak dan protein. cairan inilah yang menyebabkan bau badan sedikitnya ada 4 macam bakteri yang menyebabkan bau badan, keempat bakteri itu adalah coccus aerob, micrococus, proprioni bacteri dan dhyphteroid aerob. bakteri-bakteri ini menguraikan ikatan lemak dan protein dalam keringat, dan menghasilkan senyawa asam hexanoid, yang berbau.

Orang biasanya menggunakan deodoran atau antiperspiran untuk mengurangi bau yang tidak sedap tadi. baik deodoran maupun antiperspiran sama-sama bekerja untuk membunuh bakteri-bakteri yang menimbulkan bau yang tak sedap tadi. bedanya, antiperspiran selain menbunuh bakteri ia juga bertugas mengurangi jumlah keringat yang dihasilkan kelenjar apocrine. pada kondisi normal, ketiak mengeluarkan rata-rata 400-500 mg keringat setiap 20 menit pada suhu 35 derajat Celcius deodoran dan antiperspiran dalam mengurangi produksi keringat 20-25% dari prodeksi normal. cara kerjanya dengan mempersempit pori-pori kulit tempat keluarnya keringat, setelah cairan keringat tertahan kemudian ia akan diserap kembali oleh jaringan kulit.

selama ini belum ada keluhan yang diakibatkan oleh pemakaian deodoran atau antiperspiran, meskipun begitu, kalau  kamu tak ingin memakai deodoran atau perspiran, bisa dilakukan dengan cara mandilah teratur, hindari makanan jenis tertentu serta menghindari pemakaian baju dari bahan yang tidak menyerap keringat, bisa dijadikan alternatif untuk mengurangi bau badan.Selain itu secara alami ,makanlah daun kemangi,ini sangat baik buat tubuh untuk mengurangi bau pada badan,apalagi pada masa pertumbuhan atau pubertas.

2.3  Sistem Integumen

Kulit manusia terdiri atas epidermis  dan dermis. Kulit berfungsi sebagai alat ekskresi karena adanya kelenjar keringat (kelenjar sudorifera) yang terletak di lapisan dermis. Struktur anatomi kulit terdiri dari:

    Epidermis

Epidermis tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum) dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, menggantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmenm melanin yang memberi warna  pada kulit.

Epidermis terbagi atas 4 lapisan, yaitu:

a. Lapisan basal / stratum germinativum
* terdiri dari sel – sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis.
* Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade.
* Lapisan terbawah dari epidermis.
* Terdapat melanosit yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin( melindungi kulit dari sinar matahari.

b. lapisan Malpighi/ stratum spinosum
* Lapisan epidermis yang paling tebal.
* Terdiri dari sel polygonal
* Sel – sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri.

c. lap. Granular / stratum granulosum.
* Terdiri dari butir – butir granul keratohialinyang basofilik.

d. lapsan tanduk / korneum.
* Terdiri dari 20 – 25 lapis sel tanduk tanpa inti.
Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi:
1. Mengusir mikroorganisme patogen.
2. Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh.
3. Unsur utama yang mengeraskan rambut dan kuku.

Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Dalam epidermis terdapat 2 sel yaitu :
1.Sel merkel berperan dalam pembentukan kalus dan klavus pada tangan dan   kaki.
2.Sel langerhans . Berperan dalam respon – respon antigen kutaneus. Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan. Persambungan  antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai  tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints.

    Dermis
Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung saraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Banyaknya keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hari,tergantung pada kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebagai organ penerima rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu tubuh.

Pada suhu lingkungan tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan  memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan  air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu  tubuh  tetap dan tubuh tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh  hipotalamus.

    Jaringan Subkutan atau Hipodermis/Subkutan
Merupakan lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposi yang menghasilkan banyak lemak. Jaringan ini termasuk jaringan adiposa sebagai bantalan antara kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang. Jaringan ini juga berfungsi sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas, sebagai bantalan terhadap trauma, dan tempat penumpukan energi.

    Rambut
Terdapat di seluruh kulit kecuali telapak tangan kaki dan bagian dorsal dari falang distal jari tangan, kaki, penis, labia minora dan bibir. Terdapat 2 jenis rambut :
a. rambut terminal ( dapat panjang dan pendek)
b. Rambut velus( pendek, halus dan lembut)

Fungsi rambut adalah:
1. melindungi kulit dari pengaruh buruk:Alis mata melindungi mata dari    keringat agar tidak mengalir ke mata, bulu hidung (vibrissae)
2. menyarig udara
3. serta berfungsi sebagai pengatur suhu,
4. pendorong penguapan kerngat dan
5. indera peraba yang sensitive.

Rambut terdiri dari akar ( sel tanpa keratin) dan batang ( terdiri sel keratin ) Bagian dermis yang masuk dalam kandung rambut disebut papil. Terdapat 2 fase yaitu:
1. fase pertumbuhan (Anagen), kecepatan pertumbuhan rambut bervariasi rambut janggut tercepat diikuti kulit kepela. Berlangsung sampai dengan usia 6 tahun. 90 % dari 100.000 folikel rambut kulit kepala normal mengalami fase pertumbuhan pada satu saat.

2 .Fase Istirahat( Telogen), berlangsung + 4 bulan, rambut mengalami kerontokan 50 – 100 lembar rambut rontok dalam tiap harinya. Gerak merinding jika terjadi trauma , stress, disebut Piloereksi. Warna rambut ditentukan oleh jumlah melanin . Pertumbuhan rambut pada daerah tertentu dikontrol oleh hormon seks( rambut wajah, janggut, kumis, dada, punggung, di kontrol oleh H. Androgen. Kuantitas dan kualitas. Distribusi rambut ditentukan oleh kondisis Endokrin. Hirsutisme (pertumbuhan rambut yang berlebihan pada S. Cushing(wanita).

    Kuku
Permukaan dorsal ujung distal jari tangan atau kaki tertdapat lempeng keatin yang keras dan transparan.tumbuh dari akar yang disebut kutikula. Berfungsi mengangkat benda – benda kecil. Pertumbuhan rata- rata0,1mm/hari pembaruan total kuku jari tangan : 170 hari dan kuku kaki: 12- 18 bulan.

2.4 Kelenjar-Kelenjar Pada Kulit
    Kelenjar Sebasea
berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.

2.   Kelenjar keringat
diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu:
    kelenjar Ekrin
Terdapat disemua kulit. Melepaskan keringat sebagai reaksi peningkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh. Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik.pengekuaran keringat oada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll.
    kelenjar Apokrin
Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut. Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid. Kelenjar Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bakteri menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut kelenjar seruminosa yang menghasilkan serumen(wax).

2.5 Fungsi Kulit
Kulit memiliki beberapa fungsi yaitu:
a)  Sebagai alat pengeluaran berupa kelenjar keringat.
b)  Sebagai alat peraba.
c)  Sebagai pelindung organ dibawahnya.
d)  Tempat dibuatnya Vit D dengan bantuan sinar matahari.
e)  Pengatur suhu tubuh.
f)   Tempat menimbun lemak.

2.6 Gangguan / Penyakit Pada Kulit
1. Eksim atau Dermatitis
Adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang mana kulit tampak meradang dan iritasi. Peradangan ini bisa terjadi dimana saja namun yang paling sering terkena adalah tangan dan kaki. Jenis eksim yang paling sering dijumpai adalah eksim atopik atau dermatitis atopik. Gejala eksim akan mulai muncul pada masa anak anak terutama saat mereka berumur diatas 2 tahun. Pada beberapa kasus, eksim akan menghilang dengan bertambahnya usia, namun tidak sedikit pula yang akan menderita seumur hidupnya. Dengan pengobatan yang tepat, penyakit ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga mengurangi angka kekambuhan.

Gejala dimanapun lokasi timbulnya eksim, gejala utama yang dirasakan pasien adalah gatal. Terkadang rasa gatal sudah muncul sebelum ada tanda kemerahan pada kulit. Gejala kemerahan biasanya akan muncul pada wajah, lutut, tangan dan kaki, namun tidak menutup kemungkinan kemerahan muncul di daerah lain. Daerah yang terkena akan terasa sangat kering, menebal atau keropeng. Pada orang kulit putih, daerah ini pada mulanya akan berwarna merah muda lalu berubah menjadi cokelat. Sementara itu pada orang dengan kulit lebih gelap, eksim akan mempengaruhi pigmen kulit sehingga daerah eksim akan tampak lebih terang atau lebih gelap.

Pengobatan harus dilakukan untuk menanggulangi penyakit ini. Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion dan krim pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lebih lembab. Tindakan ini biasanya dilakukan saat kulit masih sedikit basah, seperti saat habis mandi sehingga lotion yang dioleskan akan mempertahankan kelembaban kulit. Kompres dingin juga diduga dapat mengurangi rasa gatal yang terjadi.

Salep atau krim yang mengandung kortikosteroid seperti hydrokortison diberikan untuk mengurangi proses inflamasi atau keradangan. Untuk kasus kasus yang berat, dokter akan memberikan tablet kortikosteroid dan apabila pada daerah eksim telah terinfeksi maka bisa diberikan antibiotika untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. Obat lain yang dibutuhkan adalah antihistamin untuk mengurangi rasa gatal yang terlalu berat, dan cyclosporin untuk penderita yang tidak berespon terhadap semua jenis pengobatan yang diberikan.

    Simptom
Sejenis penyakit yang disebabkan oleh tungau, disebut scabies, termasuk Penyakit yang sangat menular lewat kontakdengan kulit atau tidur di ranjang yang sama atau menggunakan handuk yang sama dengan orang yang terinfeksi.Ruam merah gatal pada kulit adalah  reaksi alergi terhadap tungau. Berikut ini adalah symptom umum scabies menurut National Library of Medicine, Amerika :
· Rasa gatal terutama di malam hari
· Garis sangat tipis seperti goresan pensil
· Abrasi yang disebabkan garukan dan goresan pada ruam
· Lepuh-lepuh kecil.

3.  Kusta atau Lepra
Disebut juga Penyakit Morbus Hansen. Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri  Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit g ranulomatosa pada saraf  tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi  pada  kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit  zaraath, yang digambarkan pada kitab dan sering disamakan dengan kusta.

Penyebab Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta. Sebuah bakteri yang tahan asam M. leprae juha merupakan bakteria erobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies mycobacterium. M. leprae belum dapat dikultur pada laboratorium. Pengobatan sampai pengembangan dapson,rifamin, dan klof az imin pada tahun1940an, tidak ada pengobatan yang efektif untuk kusta.

Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi bakteri) yang lemih terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal. {ada 1960an, dapson tidak digunakan lagi. Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an. Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri.Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.

Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang endemik. Pada1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah resolusi untuk menghapus kusta sebagai

masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta.

Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar.Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

4. Jerawat
Jerawat (bahasa Inggris:acne) adalah kondisi abnormal kulit akibat gangguan berlebihan produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit. Daerah yang mudah terkena jerawat ialah dimuka,dada, punggung dan tubuh bagian atas lengan. Peradangan pada kulit terjadi jika kelenjar minyak memproduksi minyak kulit (sebum) secara berlebihan sehingga terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dan pembentukan komedo (whiteheads) dan seborhoea. Apabila sumbatan membesar, komedo terbuka (blackheads) muncul sehingga terjadi interaksi dengan bakteri jerawat.

Munculnya jerawat sering terjadi pada masa pubertas antara usia 14-19 tahun yang disebabkan oleh perubahan hormon pada remaja. Deteksi jerawat sejak dini sangat sulit sebab sebelum masa pubertas kulit anak akan mengalami pengelupasan tiga minggu sekali. Sedangkan ketika remaja, kulit mengelupas empat minggu sekali.

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85% populasi mengalami jerawat pada usia 12-25 tahun, 15% populasi mengalaminya hingga usia 25 tahun. Jika tidak teratasi dengan baik, gangguan jerawat dapat menetap hingga usia 40 tahun. Pencegahan dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kulit adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah timbulnya jerawat.Selain itu,kurangi stress. Pemeriksaan Diagnostik Gangguan Sistem Integumen Biopsi kulit,mendapatkan jaringan untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan cara eksisi dengan scalpel atau alat penusuk khusus ( skin punch) dengan mengambil bagian tengah jaringan.

2.7 Perawatan Luka

1.Definisi Luka
Cedera atau  luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh  yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi. Luka juga dapat merujuk pada luka batin atau perasaan (Wikipedia). Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit. Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain.

2.Jenis-Jenis Luka
Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu  dan menunjukkan derajat luka.

a.Luka bersih
Luka yang tidak terdapat inflamasi dan infeksi, tidak melibatkan  saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran perkemahan.

b.Luka bersih terkontaminasi
Luka bedah yang melibatkan saluran pernapasan, saluran     pencernaan, dan saluran perkemahan. Luka tidak menunjukkan tanda infeksi.

c.Luka terkontaminasi
Luka terbuka, segar, luka kecelakaan, dan luka bedah yang berhubungan dengan saluran pencernaan. Luka menunjukkan tanda infeksi.

d. Luka kotor
Luka lama, luka kecelakaan yang mengandung jaringan mati dan luka dengan tanda infeksi seperti cairan purulen.

3. Penyembuhan Luka
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan.

Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor yaitu:
(1) Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang,
(2) Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepa tetap dijaga,
(3) Respon tubuh secara sistemik pada trauma,
(4) Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka,
(5) Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis    pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme, dan
(6) Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri.

2.8 Fase Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan.Tahap Penyembuhan Luka menurut Kozier, et al. (1995) yaitu:

1) Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3–4 hari. Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel.Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati,scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme.

Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Epitelial sel membantu sebagai barier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme. Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak.

Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan .mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan.

2) Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke-21 setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel      jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka. Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah.

3) Fase Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Kolagen menjalin dirinya , kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru ini disebut granulasi jaringan, adanya pembuluh darah, kemerahan dan mudah berdarah.

3) Fase Maturasi
Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 – 2 tahun setelah luka. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah, membuat penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Kollagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi rata, tipis dan garis putih.

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Kulit adalah bagian terpenting dalam tubuh manusia,oleh sebab itu kita harus menjaga dan meraPenyembuhan luka yang terbaik adalah dengan membuat lingkungan luka tetap kering dan menjaga kebersihannya dari kontaminasi organisme infeksi dari luar lingkungan, dan perawatan luka dilakukan dengan teknik steril. Penyembuhan luka pada manusia berbeda-beda cepatnya sesuai faktor yang mempengaruhi seperti penyakit DM atau banyaknya timbunan jaringan lemak pada kulit, semua itu akan memperlama proses penyembuhan luka.

3.2 Saran
Perawat harus aktif dan teliti dalam melakukan perawatan luka teknik steril harus dipertahankan untuk menjaga infeksi. Perawat harus teliti dalam melakukan tindakan perawatan luka dan harus mempunyai dasar ilmu dalam melakukannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.id.wikipedia.org/wiki/Kulit
http://www.akperku.blogspot.com/2010/04/sistem-integumen-kulit.html
http://www.honey72.wordpress.com/2010/02/14/perawatan-luka/
http://www.aminetn.wordpress.com/2009/07/26/jenis-jenis-luka/
http://www.unilever.co.id/id/produkkami/…keringat dan bau badan

Selasa, 10 Mei 2011

Makalah Sel Saraf Manusia

I.PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Susunan sel saraf pusat (SSP) manusia mengandung sekitar1011 (100 miliar) neuron. Juga terdapap sel-sel glia sebanyak 10-5- kali jumlah tersebut. Neuron, yang merupakan unit dasar sitem saraf merupakan evolusi dari sel-sel neuroefektor primitive yang berespons terhadap berbagai rab\ngsang dengan cara berkontraksi. Pada hewan yang lebih kompleks, kontraksi merupakan fungsi khusus sel-sel otot, sedangkan integrasi dan transmisi impuls saraf menjadi fungsikhusus neuron.
Sistem saraf adalah sistem organ pada hewan yang terdiri atas sel neuron yang mengkoordinasikan aktivitas otot, memonitor organ, membentuk atau menghentikan masukan dari indra, dan mengaktifkan aksi. Komponen utama dalam sistem saraf adalah neuron yang diikat oleh sel-sel neuroglia, neuron memainkan peranan penting dalam koordinasi.
Sistem saraf pada vertebrata secara umum dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi.
Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Jadi, iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Sistem saraf mempunyai tiga fungsi utama, yaitu menerima informasi dalam bentuk rangsangan atau stimulus; memproses informasi yang diterima; serta memberi tanggapan (respon) terhadap rangsangan.
Susunan saraf terutama dibentuk oleh jaringan yang memiliki sifat khusus yaitu dengan cepat dapat mengahatar rangsangan dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Sel khusus yang membentuk satuan susunan fungsional susunan saraf disebut neuron. Neuron yang ada di dalam otak dan medula spinalis ditunjang oleh jaringan ikat khusus disebut neuroglia. Jaringan saraf terdiri atas neuron dan neuroglia banyak mengandung pembuluh darah tetapi tidak ada pembuluh limf.
Susunan saraf manusia terdiri atas sangat banyak neuron yang secara khusus saling berhubungan.Dengan adanya hubungan inilah badan dapat mengetahui perubahan yang terjadi di lingkungannya atau di dalam tubuhnya sendiri, dan memberi respon yang sesuai terhadap perubahan ini, misalnya berupa gerakan atau mempengaruhi kerja organ tertentu dalam tubuh. Mekanisme beberapa fungsi yang relatif sederhana ini telah dipahami sebagai hasil penelitian yang dilakukan selama lebih dari satu abad. Tak dapat disangkal bahwa fungsi otak yang lebih tinggi seperti mengingat dan kecerdasan harus diterangkan pula berdasarkan hubungan-hubungan antar neuron ini, hingga kini masih sedikit yang diketahui mengenai mekanisme yang terkait dengan itu.Makalah ini membahas terbangkitnya neuron oleh rangsang, proses integrasi antara neuron serta penghantaran impuls pada neuron.

B.    Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk :
1.    Mengetahui bagian-bagian sel
2.    Mengetahui pengertian potensial aksi
3.    Mengetahui mekanisme penghantaran impuls pada sel saraf

II. PEMBAHASAN
A.SEL SARAF ATAU NEURON

1.Struktur Neuron

Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar.
Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan.
Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit).

Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek.

Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls.
Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi).
1.Sel saraf sensori
Fungsi sel saraf sensori adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).
2.Sel saraf motor
Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang.
3.Sel saraf intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya.

Struktur ganglion gabungan fari badan sel saraf
Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.

2.Variasi Struktur Neuron
Ukuran dan bentuk badan sel neuron sangat bervariasi, juga panjang cabang dan caranya bercabang. Diameter badan sel bervariasi dari 5 um pada neuron terkecil sampai 120 um pada yang palinng besar. Bentuk badan sel tergantung jumlah cabangnya.
a.Multipolar
Jenis neuron yang memiliki beberapa cabang dan badan selnya
b.Bipolar
Beberapa neuron yang hanya memiliki satu akson dan satu dendrit
c.Pseodonipolar
Jenis neuron yang hanya memiliki satu cabang yang segera bercabang dua, salah satu cabangnya adalah akson dan cabang lainnya berfungsi sebagai dindrit, tetapi strukturnya tak dapat dibedakan dari akson. Neuron ini bila dilihat dari strukturnya disebut unipolat  tetapi dari sudut fungsional disebutdipolar.

Selain adanya variasi bentuk dan ukuran, penampilan substansi Nissl dalam badan sel pun sangat bervariasi. Substansi Nissl pada beberapa neuron sangat mencolok dan membentuk kelompokan besar. Pada yang lain berupa granula halus dan tersebar merata didalam sitoplasma, dan pada neuron yang lain lagi berupa peralihan antara kedua jenis itu. Perbedaan ini berhubungan dengan fungsinya.
Panjang akso setelah meninggalkan badan sel neuron pun sangat bervariasi. Ada neuron yang memiliki akson pendek dan berakhir dekat badan selnya. Neuron lain memiliki akson yang meluas sampai jauh. Sangat jarang terdapat neuron tanpa akson sejati.
Seperti telah dijelaskan didepan akson dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidak adanya selubung, sehingga ada yang dikatakan bermielin dan lainnya tanpa mielin. Diameter akson pun bervariasi yang tampak pada potongan melintang.

A.    SINAPS

Susunan saraf memiliki banyak neuron yang saling berhubungan membentuk jaras konduksi fungsional (functional conducting pathway). Potensial aksi di neuron prasinaps menyebabkan pengeluaran neurotransmitter yang berikatan dengan reseptor di neuron pascasinaps.

Impuls saraf dipindahkan dari neuron satu ke neuron lain pada tempat kontak yang secara morfologis dapat dikenali dan dikenal sebagai sinaps.Telah diketahui bahwa sinaps merupakan tempat pertemuan antara neuron.
Sinaps hanya menghantar impuls dalam satu arah. Kedua unsur yang membentuk sinaps dapat disebut sebagai pra-sinaps dan pascaca sinaps.  Sinaps dapat digolongkan berdasarkan posisinya pada neuron pasca-sinaps. Hanya jenis yang umum saja yang akan dibicarakan disini. Akson yang berakhir pada dendrit membenuk disebut sinaps aksoden-dritik. Beberapa diantaranya memiliki tonjolan-tonjolan kecil pada dendritnya yang disebut durt dendrik,dan tepat pada atau melingkupinya terdapat “end bulb” terminal akson. Ujung akson yang berakhir pasa badan sel neuron membentuk yang disebut sinaps aksosomatik.
Kurang lebih setengah permukaan total badan sel neuron dan hampir seluruh permukaan dendritnya dapat terlihat dalam kontak sinaptik dengan neuron lain. Akson yang berakhir pada akson lain membentuk apa yang disebut sinaps aksoaksonik. Sebuah akson hanya membentuk sinaps dengan akson lain pada tempat yang tidak bermielin. Hal ini terdapat pada segmen progsimal suatusuatu akson karena pada tempat ini akson itu tetap terbuka karena meilinisasi tidak dimulai pada akson hilok namun berjarak sedikit darinya.
Akson mungkin berakhir sebagai bulbas maka disebut bouton. Mungkin bagian ujung akson ini mengandung sejumlah pentol demikian yang masing-masingnya bersinaps dengan neuron penerima. Telah diketahui bahwa pada dendrit terdapat banyak duri. Ujung akson mungkin bersinapsdengan duri demikian atau dengan bagian licin diantara duri itu. Kadang-kadang ujung akson berakhir dengan bersinaps drngan ujung bouton akson lain membentuk apa yang disebut sinaps seri. Dalam keadaan tertentu beberapa neuron bersama membentuk sinaps kompleks. Daerah demikian mungkin dibungkus sel neuroglia membentuk glomerulus sinaps. Glomerulus demikian terdapat pada serebelum, bulbus olfaktori, korpus genikulata lateral, dan beberapa tempat lain.
Pada bagian bouton pra-sinaps terdapat banyak vesikel sinaps. Juga mitokondria, lisosom, dan mikrotubul. Juluran pasca-sinaps juga memperlihatkan bangunan bermembran dengan berbagai bentuk.
Sinaps dalam situasi berbeda juga sangat bervariasi bentuk umumnya, ukurannya, bentuk dan sifat vesikel sinaptik dan konvigurasi daerah sitoplasma padat pra-sinaps dan pasca-sinaps. Dilihat dari sudut fisiologi maka terdapat sinaps eksitatori atau inhibitori.

C.    POTENSIAL AKSI PADA SEL SARAF

1.Sintesis protein dan transport aksoplasmik

Sel-sel saraf merupakan sel sekretorik, tetapi berbeda dengan sel-sel sekretorik lain, zona sekretorik sel saraf umumnya ada diujung akson, jauh dari badan sel. Ribosom, kalaupun ada, terdapat sedikit diakson dan ujung saraf; semua protein penting disintesis di retikulum endoplasmik dan aparatus golgi badan sel, dan kemudian diangkut disepanjang aksonke tonjolan sinaptik melalui proses aliran aksoplasmik . dengan demikian, badan selmempertahankan integritas fungsional dan anatomi akson; bila akson dippotong, bagian distal dari pemotongan akan berdegenerasi (degenerasi wallerian). transport cepat berlangsung dengan kecepatankurang lebih 400mm/h, dan transport lambat berlangsung kurang lebihpada kecepatan 0,5-10 mm/h. transport retograd dengan arah yang berlawanan juga terjadi disepanjang mikrotubulus dengan kecepatan kira-kira 200 mm/h. Vesikel sinaptik mengalami daur ulang di membran sel, tetapi sebagian vesikel yang telah terpakai dibawa kembali ke badan sel dan disimpan dilisosom. Sebagian material yang diambil diujung-ujung saraf melalui proses endositosis, termasuk faktor pertumbuhan saraf dan berbagai virus, juga diangkut kembali ke badan sel.

2.Potensial Aksi
Dalam fisiologi , sebuah potensial aksi adalah tahan short event di mana listrik potensial membran dari sel dengan cepat naik dan turun, mengikuti lintasan konsisten. Aksi potensi terjadi pada beberapa jenis sel-sel hewan , disebut sel meluap perasaannya , yang meliputi neuron , sel-sel otot , dan endokrin sel, serta dalam beberapa sel tumbuhan . Dalam neuron, mereka memainkan peran sentral dalam sel-komunikasi-sel. Dalam jenis sel, fungsi utama mereka adalah untuk mengaktifkan proses intraseluler. Pada sel otot, misalnya, potensial aksi adalah langkah pertama dalam rantai peristiwa yang menyebabkan kontraksi. Dalam sel-sel beta dari pankreas , mereka memprovokasi pelepasan insulin.Aksi potensi di neuron yang juga dikenal sebagai “impuls saraf” atau “paku”, dan urutan temporal potensial aksi yang dihasilkan oleh neuron ini disebut kereta yang spike ” “. Sebuah neuron yang memancarkan suatu potensial aksi sering dikatakan “api”.
potensi Aksi dihasilkan oleh jenis khusus dari gated ion channel-tegangan tertanam dalam sel membran plasma . Saluran ini tertutup ketika potensial membran dekat potensial istirahat sel, tetapi mereka dengan cepat mulai terbuka jika potensial membran meningkat ke nilai ambang didefinisikan secara tegas. Ketika saluran terbuka, mereka mengijinkan arus batin natrium ion, yang mengubah gradien elektrokimia, yang pada gilirannya menghasilkan peningkatan lebih lanjut dalam potensial membran. Hal ini kemudian menyebabkan lebih banyak saluran untuk membuka, menghasilkan arus listrik yang lebih besar, dan sebagainya. Proses Hasil eksplosif sampai semua saluran ion yang tersedia adalah terbuka, mengakibatkan kenaikan besar dalam potensial membran. Cepat masuknya ion natrium menyebabkan polaritas membran plasma untuk membalikkan, dan saluran ion kemudian cepat menginaktivasi. Sebagai saluran natrium dekat, ion natrium tidak dapat lagi memasuki neuron, dan mereka secara aktif diangkut keluar dari membran plasma. Kalium saluran kemudian diaktifkan, dan ada sebuah arus luar ion kalium, gradien elektrokimia mengembalikan ke keadaan istirahat . Setelah potensial aksi telah terjadi, ada pergeseran negatif sementara, yang disebut afterhyperpolarization periode refraktori atau, karena arus kalium tambahan. Ini adalah mekanisme yang mencegah potensi tindakan perjalanan kembali cara baru saja datang.
Pada sel hewan, ada dua jenis utama potensial aksi, salah satu jenis yang dihasilkan oleh saluran-gated sodium tegangan, yang lainnya dengan tegangan-gated calcium channel. potensial aksi Sodium berbasis biasanya berlangsung kurang dari satu milidetik, sedangkan potensial aksi berbasis kalsium dapat berlangsung selama 100 milidetik atau lebih. Dalam beberapa jenis neuron, paku kalsium lambat memberikan kekuatan pendorong untuk ledakan yang panjang paku natrium cepat-dipancarkan. Pada sel otot jantung, di sisi lain, sebuah spike cepat awal natrium memberikan “primer” untuk memprovokasi terjadinya lonjakan cepat kalsium, yang kemudian menghasilkan kontraksi otot.

3.Potensial Membran Istirahat
Bila dua elektroda dihubungkan dengan suatu OSK melalui amplifier yang sesuai, dan diletakkan di permukaan suatu akson tunggal. Tidak terjadi perbedaan potensial. Tetapi bila satu elektroda dimasukkan ke dalam sel, tampak perubahan potensial yang menetap, dengan bagian dalam relatif negatif terhadap bagian luar sel dalam keadaan istirahat. Potensial membran istirahat ini ditemukan pada hampir semua sel.

4.Masa Laten
Bila akson dirangsang dan terjadi rambatan impuls, tampak serangkaian perubahan potensial yang khas yang dikenal sebagai potensial aksi, saat impuls berjalan melewati  elektroda eksternal. Saat rangsang diberikan, terjadi penyimpangan (defleksi) garis dasar yamh singkat dan tidak teratur, itulah artefak rangsang. Artefak ini timbul karena adanya kebocoran arus dari elektroda perangsang ke elektroda perekam. Hal ini biasanya terjadi sekalipun telah dilindungi dengan hati-hati, tetapi sangat berarti karena memberi tanda pada layar sinar katoda pada saat rangsang diberikan.
Artefak rangsang tersebut disusun oleh interval isopotensial (masa laten) yang berlangsung sampai saat mulainya potensial aksi. Masa laten ini sesuai dengan waktu yang dibutuhkan oleh impuls untuk bergerak sepanjang akson dari tempat perangsangan ke elektroda perekam. Lamanya sebanding dengan jarak antara elektroda perangsang dan elektroda perekam,dan berbanding terbalik dengankecepatan hantar. Bila diketahui lama masa laten dan jarak antara kedua elektroda, kecepatan akson dapat dihitung.

5.Potensial Elektronika, Respons Setempat dan Ambang Letup
Meskipun rangsang bawah ambang tidak menghasilkan potensial aksi, tetapi rangsang bawah ambang menimbulkan efek pada potensial membran. Hal ini dapat diperlihatkan dengan menempatkan elektroda perekam pada jarak beberapa milimeter di dalam elektroda perangsang dan memberikan rangsang bahwa ambang selama waktu tertentu. Pemberian rangsang listrik seperti itu melalui katoda menimbulkan potensial depolarisasi setempat yang meningkat dengan tajam dan menurun seiring dengan waktu. Besarnya respon depolarisasi ini menurun dengan cepat dengan semakin jauhnya jarak antara elektroda-elektroda perangsang dengan elektroda perekam. Sebaliknya, rangsang listrik anoda menghasilkan potensial hiperpolarisasi dengan durasi yang sama.Perubahan-perubahan potensial seperti itu dinamakan  potensial elektronik, potensial yang terbentuk di katoda dinamakan katelektrotonik dan yang dihasilkan di anoda dinamakan anelektrotonik. Potensial elektronik adalah perubahan-perubahan pasif pada polarisasi membran yang disebabkan oleh penambahan atau oengurangan muatan listrik ole elektroda tertentu. Pada kuat rangsang yang rendah, yang menghasilkan depolarisasi atau hiper-polarisasi sampai sekitat 7 mV, amplitudonya sebanding dengan kuat rangsang. Pada rangsang yang lebih kuat, hubungan proporsional ini tetap sama dengan peristiwa anelektrotonik, tetapi tidak demikian halnya dengan respon yang terjadi di daerah katoda, respon didaerah katoda lebih besar dari yang diperkirakan sehubungan dengan kuat rangsang yang diberikan. Akhirnya, bila rangsang katoda lebih besar untuk menghasilkan depolarisasi sebesar kurang lebih 15 mV,yaitu pada potensial sebesar -55 mV, potensial membran tiba-tiba  turun dengan cepat dan terbangkit potensial aksi yang merambat. Respon yang lebih besar yang tidak propesional di daerah katoda terhadap ransang yang cukup kuat untuk menghasilkan depolarisasi sebesar 7-15 mV terjadi bila salutan Na+ bergerbang voltase (voltage-gated Na+ channels) mulai terbuka dan respon yang terjadi dinamakan respons setempat. Titik tempat mulainya potensial aksi terbangkit dinamakan ambang letup. Dengan demikian, arus katoda yang menghasilkan depolarisasi sampai 7 mV, hanya mempunyai pengaruh pasif terhadap membran sebagai akibat dari penambahan muatan listrih negatif. Arus yang menghasilkan depolasisasi 7-15 mV juga sedikit berkontribusi aktif terhadap proses depolarisasi. Meskipun demikian, daya repolarisasi masih lebih kuat dari pada daya depolarisasi, dan dengan demikian , potensial listrik semakin menurun. Pada potensial depolarisasi sebesar 15mV, daya depolarisasi cukup kuat untuk mengatasi proses repolarisasi, maka terjadilah potensial aksi.
Perangsangan biasanya terjadi di katoda, karena rangsang katoda menimbulkan depolarisasi. Arus anoda, dengan menjauhkan potensial membran dari ambang letup, menghambat pembentukan impuls. Meskipun demikian, berakhirnya arus anoda dapat menimbulkan kaduk julang (overshoot) depolarisasi pada potensial membran. Efek lepas-hambatan ini kadang-kadang cukup besar dengan demikian menyebabkan potensial aksi saraf terbangkit di saat berakhirnya rangsang anoda. Proses depolarisasi dan repolarisasi:
•  Depolarisasi (kemajuan)
•    Jika neuron menerima stimulasi yang cukup untuk mencapai ambang membran, berturut-turut Na gerbang sepanjang seluruh membran neuron akan terbuka
•    Pembukaan gerbang ion Na Na memungkinkan untuk pindah ke neuron
•    Pergerakan ion Na ke neruon penyebab potensial membran berubah dari-70mV ke +40 mV
•    Sebagai potensial membran menjadi lebih positif, Na gerbang mulai menutup. Pada akhir depolarisasi, gerbang Na adalah semua yang ditutup
•  Repolarisasi (Down-swing)
•    Pada akhir fase depolarisasi, K gerbang mulai terbuka, sehingga K untuk meninggalkan neuron
•    K gerbang ini diaktifkan sebesar nilai + ve potensi membran sekitar +40 mV
•    Gerakan keluar ion K dari neuron menghasilkan perubahan potensial membran sehingga potensi menjadi lebih-ve
•    Setelah repolarisasi, gerbang K dekat perlahan-lahan
•    Selama konduksi impuls saraf, setiap bagian berurutan dari membran neuron akan menjalani potensial aksi yang terdiri dari depolarisasi diikuti oleh repolarisasi
•    Jadi impuls saraf adalah gerakan potensial aksi di sepanjang membran sel neuron

III. PENUTUP

A.Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari materi potensial aksi pada sel saraf ini sebagai berikut:
1.  Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit).
2.  Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan.
3.  Potensial aksi adalah tahan short event di mana listrik potensial membran dari sel dengan cepat naik dan turun, mengikuti lintasan konsisten.
4. Perubahan-perubahan potensial seperti itu dinamakan  potensial elektronik, potensial yang terbentuk di katoda dinamakan katelektrotonik dan yang dihasilkan di anoda dinamakan anelektrotonik.

B.Saran
Karena neuron merupakan unit dasar sitem saraf merupakan evolusi dari sel-sel neuroefektor primitive yang berespons terhadap berbagai rab\ngsang dengan cara berkontraksi, dan pada hewan yang lebih kompleks, kontraksi merupakan fungsi khusus sel-sel otot, sedangkan integrasi dan transmisi impuls saraf menjadi fungsikhusus neuron, maka seharusnya kita menjaga neuron, salah satu caranya yaitu dengan menkonsumsi makanan-makanan yang mengandung nilai gizi bagi tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ganong,William F.2003.BUKU AJAR FISIOLOGI KEDOKTERAN.Jakarta:
EEC
Geneser, Fin.1994.BUKU TER HISTOLOGI.Jakarta: Binarupa Aksara
Kimball, John.W.1996.BIOLOGI.Jakarta: Erlangga
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.slide
share.net/mrskennedy/nerve-impulse. 2 Maret 2011.11.00 ama